Rabu, 03 Maret 2010

Mengatasi Anak Mogok Sekolah

Tak terasa ya tahun ajaran baru sudah menjelang. Di saat-saat seperti ini kesibukan dan ketegangan rasanya semakin meningkat. Tak hanya pada anak dalam menghadapi tugas-tugas belajarnya, tapi ketegangan meningkat juga pada orang tua ketika mendampingi anak belajar dan mencari-cari sekolah yang tepat untuk putra-putri tersayang. Bahkan biasanya ibu jadi lebih panik daripada anak yang menjalani sekolah… . Mungkin bagi sebagian anak (dan orangtua) proses belajar anak di sekolah dinilai kurang berjalan mulus, bahkan mungkin bermasalah sehingga menimbulkan stres sendiri bila harus berhadapan dengan urusan sekolah. Salah satunya bila menghadapi anak yang mogok sekolah.


Seorang teman pada suatu hari ‘curhat’ pada saya tentang anaknya yang tiba-tiba mogok sekolah. Si anak saat itu berusia 6 tahun dan sekolah di TK B. Selama hampir 2 semester di kelas B semua berjalan lancar, sang ibu merasa tak pernah ada tanda-tanda kesulitan yang dialami anak di sekolah. Namun di penghujung tahun ajaran, tiba-tiba ia tidak mau sekolah, ingin terus berada dekat dengan ibunya, dan kalaupun terpaksa masuk sekolah ibu harus menemaninya di kelas. Butuh waktu sebulan untuk membujuknya mau kembali masuk ke kelas tanpa ditemani ibu, itupun dengan syarat ibunya harus berada di tempat yang terlihat olehnya.

Apa yang disebut mogok sekolah? Mengapa tiba-tiba anak mogok sekolah?
Mogok sekolah adalah kejadian ketika seorang anak tidak mau pergi ke sekolah atau benar-benar menolak untuk pergi ke sekolah. Mogok sekolah bisa terjadi pada setiap usia, dan cenderung lebih banyak terjadi pada masa transisi seperti menjelang kenaikan kelas, awal tahun ajaran, atau masuk sekolah baru (misalnya dari TK masuk ke SD).

Kejadian ini biasanya membuat orang tua maupun anak menjadi tidak nyaman. Di sisi orang tua, anak yang mogok sekolah membuat mereka merasa gagal mengarahkan dan mendukung anak.
Sementara dari sisi anak, tentu saja hal ini membuat proses belajarnya di sekolah menjadi semakin sulit, tugas sekolah terbengkalai, dan anak kehilangan kesempatan bermain dengan temannya.

Beberapa alasan yang membuat anak enggan pergi ke sekolah:

1.    Merasa takut berada jauh dari orang tua. Mungkin terjadi karena pengalaman anak sebelumnya yang merasa berpisah dengan orang tua tidak mengenakkan, misalnya berada di rumah dengan pengasuh yang kurang memperhatikan dirinya atau tak tanggap dengan kebutuhannya.

2.    Takut kehilangan orangtua. Anak mungkin berpikir sesuatu yang buruk akan terjadi pada orangtua saat ia tak berada dekat dengan orang tuanya. Hal ini dapat disebabkan oleh:
o    Orangtua yang sakit
o    Terjadi masalah perkawinan (orangtua bertengkar/bercerai)
o    Melihat anak lain yang kehilangan orang tua

3.    Ketakutan bahwa orangtua mungkin akan pergi meninggalkannya saat ia di sekolah. Pengalaman ‘kehilangan’ orang tua tanpa mengetahui alasan yang jelas dari ketidakberadaan orang tua akan membuat anak selalu diliputi rasa khawatir. Misalnya ketika ia bangun tidur pagi orang tua sudah tidak di rumah sementara sebelum tidur ia tidak tahu bahwa orang tuanya akan pergi. Agar tak menghadapi kerewelan anak saat berangkat ke kantor, ibu merasa lebih baik tak berpamitan dan memilih berangkat saat anak masih tidur atau saat anak bermain dengan pengasuh. Anak yang tersadar telah kehilangan ibu, tanpa tahu kemana ibu meninggalkannya, pasti akan merasa harinya membingungkan dan selalu khawatir jika kelak ibu akan kembali ‘menghilang’ sehingga ia merasa lebih baik berada dekat terus dengan ibu..

4.    Pindah rumah di awal tahun sehingga anak tidak sepenuhnya memahami jarak dan ruang dan begitu merasa bahwa ia telah kehilangan kontak dengan lingkungannya. Keadaan menjadi membingungkan buat anak sehingga ia memutuskan untuk lebih baik tak berangkat ke sekolah.

5.    Kecemburuan jika ada adik di rumah. Anak mungkin berpikir bahwa ibu akan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan dengan adiknya sementara dia di sekolah.

6.    Masalah di sekolah seperti:
o    ditindas oleh teman yang lebih dominan
o    merasa tidak mempunyai teman
o    masalah belajar, sulit memahami pelajaran atau mengerjakan tugas
o    tidak memiliki hubungan yang baik dengan seorang guru.

7.    Orangtua yang tidak bisa diandalkan ketika menjemput setelah sekolah. Orang tua yang sering sangat terlambat menjemput anak di sekolah membuat anak merasa ia telah dilupakan.

8.    Kekhawatiran orang tua yang berlebihan. Saat ini memang kejahatan terhadap anak semakin marak, seperti masalah penculikan anak atau penganiayaan anak oleh guru.  Namun perlu kita jaga agar jangan sampai kekhawatiran tersebut terlihat oleh anak karena hal itu akan membuat anak juga merasa khawatir sementara ia tak tahu harus berbuat apa menghadapi masalah itu. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah memberikan anak bekal pengetahuan yang cukup bagaimana menjaga keselamatan dirinya sendiri.

Apa yang dapat kita lakukan dalam menghadapi atau mencegah anak yang mogok sekolah? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan, tergantung penyebab dari kejadian mogok sekolah. Namun secara umum ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya hal itu.

Pertama, pencegahan selalu lebih baik daripada mengatasi kesulitan yang terlanjur terjadi. Dari banyak kejadian anak mogok sekolah, umumnya mogok sekolah terjadi karena adanya kecemasan anak berpisah dengan orang tua. Membangun rasa percaya anak pada orang tua adalah hal utama yang harus kita lakukan sejak dini. Salah satu cara yang paling gampang adalah dengan berbicara jujur, menjelaskan setiap alasan dari tindakan yang kita lakukan yang berkaitan dengan anak. Jika orang tua harus pergi meninggalkan anak (misalnya ibu harus bekerja di kantor) tak perlu sembunyi-sembunyi, terangkanlah mengapa ibu harus pergi dan yakinkan bahwa ibu akan kembali padanya. Bila hal itu dilakukan secara konsisten, anak tak akan kehilangan kepercayaan pada orang tua walaupun orang tua tak berada di sisinya sepanjang waktu.

Di samping itu, orang tua perlu menjalin kerjasama yang baik dengan sekolah. Usahakanlah untuk bertemu guru secara teratur, misalnya 2-3 minggu sekali untuk memonitor perkembangan anak. Hubungan yang terjalin baik dengan pihak sekolah akan memudahkan komunikasi bila terjadi masalah yang menyangkut anak di sekolah. Di samping itu, kehadiran orang tua di sekolah membuat anak merasa bahwa orang tua turut memperhatikan dan terlibat dengan kepentingannya di sekolah dan tetap tak kehilangan kontak walaupun ia tak di rumah.

Membangun rasa percaya diri dan keterampilan sosial anak (untuk bergaul dengan teman maupun orang yang lebih tua) harus dilakukan sejak anak belum masuk usia sekolah. Dengan keterampilan ini anak akan dapat segera mengatasi sendiri masalah-masalah yang berkaitan dengan  pergaulan di sekolah, misalnya untuk berkenalan dengan teman baru, mengatasi perselisihan dengan teman, atau berbicara pada guru kelasnya.

Mencoba sesuatu yang baru pasti akan mendatangkan kekhawatiran, tak hanya terjadi pada anak namun pada umumnya kita orang dewasa. Memasuki sekolah baru, pikiran anak akan dihinggapi pertanyaan dan kecemasan apakah ia dapat bergaul dengan teman-temannya, apakah gurunya akan baik padanya, apakah ia akan paham pelajaran di sekolah, dan sebagainya. Kekhawatiran akan berkurang seiring dengan pengenalan yang semakin baik dengan tampat baru yang dimasukinya. Mengajak anak berkenalan dengan guru dan lingkungan sekolahnya sebelum tahun ajaran dimulai, misalnya dengan mengajak anak untuk ikut saat sekolah mengadakan open house, akan dapat mengurangi kecemasan anak. Ajaklah ia untuk beberapa kali mengikuti rute yang akan dilaluinya dari rumah ke sekolah dan tunjukkan tempat-tempat yang dapat menjadi penanda (landmark) dari tempat yang dilalui agar anak lebih mengenal lingkungan barunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar